Kamis, 23 Juli 2015

[Sally Diandra] Sinopsis Jodha Akbar episode 517 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 517 by Sally Diandra. Jodha masih menemani Aram Bano di kamarnya lalu menyuruh pelayannya untk membereskan boneka boneka milik Aram Bano yg akan di jual Meena Bazaar besok, para pelayan itupun segera membereskan boneka boneka milik Aram Bano.

Di medan perang, di dlm tenda Salim berkata kepada anak buahnya “Umumkan pd semua orang, siapapun yg bisa memberikan kita petunjuk ke Maharana Pratap, maka dia akan mendapatkan hadiah !” Salim jg meminta pd anak buahnya untk terus mengintai dan mengawasi di pusat pasar, karena bisa jadi para prajurit Maharana Pratap pasti mendapatkan makanan dari suatu tempat

Sementara itu di tempat persembunyian Maharana Pratap, Pratap berkata pd anak buahnya “Kita akan memaksa Mughal sesegera mungkin !”

Di Agra, Dammu sedang menyiapkan manisan yg dibuat khusus untk Jalal, Dammu meletakkan manisan / kheer itu di atas sebuah meja kemudian Dammu dan Laboni membacakan sebuah mantra ilmu sihir mereka dan tiba tiba kheer itu berwarna kuning terang seperti emas kemudian perlahan meredup, Laboni dan Dammu sangat senang melihatnya “Laboni, kamu harus membuat Jalal memakan kheer ini, maka dia akan tunduk padamu dan menjadi milikmu selama lamanya” Laboni dan Dammu tertawa terbahak bahak

Keesokan harinya di Meena Bazaar, semua ratu telah siap dgn dagangan mereka di kios kios mereka masing masing yg di hiasi seindah mungkin, saat itu Rukayah sedang berjualan syal, banyak orang yg datang melihat lihat syal yg dijualnya , Hoshiyar menemani Rukayah jg disana, kebetulan Dammu melewati kios Rukayah, Dammu segera mengucapkan mantra mantra sihirnya ke Hoshiyar melalui cincin batu hitam yg di kenakannya, hingga akhirnya Hoshiyar yg tadinya hanya diam saja tak mengucapkan sesuatu tiba tiba mendatangi para pembeli dan berkata “Kalian tahu ... syal ni palsu, bukan yg asli” Rukayah tercengang melihat tingkah Hoshiyar “Jangan percaya sama dia, nyonya ... dia agak kurang waras” ujar Rukayah membela dirinya sendiri “Aku tak gila ! Syal ni memang jelek jelek, kalian pergi saja ke kiosnya Ratu Sinopsis Jodha Akbar episode 517 by Sally DiandraJodha, kalian akan mendapatkan barang barang yg bagus disana” ujar Hoshiyar sambil memprovokasi para pembeli, para pembeli itu akhirnya memutuskan tak jadi membeli syal yg dijual oleh Rukayah, Rukayah terkejut, ketika Rukayah memohon mereka untk memilih milih syal mana yg mereka suka, para pembeli itu tak mau malah pergi begitu saja meninggalkan kios Rukayah, dlm hati Hoshiyar berkata “Waduuuh ,,, aku mati hari ni !” karena sebenarnya Hoshiyar tak ingin mengatakan hal seperti itu tapi entah mengapa kata kata yg keluar dari mulutnya selalu saja menjelek jelekkan Rukayah majikannya sendiri, sementara itu Rukayah langsung menjerit memanggil nama Hoshiyar dgn lantang “Hooooossshiiyaaarrrrr !!!!!!” teriak Rukayah sambil memukul Hoshiyar dgn syal syal yg dijualnya, sedangkan Dammu hanya tersenyum senang melihatnya.

Sementara itu, di kios Jodha, Jodha dan Aram Bano sedang menjual boneka, rupanya boneka yg di jual oleh Aram Bano dan Jodha suah habis ludes terjual dan saat neneknya datang boneka Aram Bano tinggal dua, Jodha segera memberikan salam pd ibu mertuanya ini. Aram Bano menunjukkan bonekanya ke nenek Hamida “Nenek, boneka ni baru saja menikah, dia sedang menangis karena jauh dari keluarganya, nenek mau kan membelinya ? Kasihan karena dia ni sendirian” ujar Aram Bano dgn gaya celotehannya yg lucu, Hamida, Gulbadan dan kakak perempuan Aram Bano yg bernama Khanum cuma bisa tersenyum melihat tingkah Aram Bano yg lucu dan menggemaskan, Jodha yg berdiri di belakang Aram Bano hanya bisa tersenyum melihat ulah anak bungsunya ni “Baiklah nenek akan membelinya” ujar Hamida “Kalau begitu, nenek jg harus membeli mempelai prianya ini, bagaimana dia bisa hidup tanpa istrinya ?” ujar Aram Bano sambil melirik ke arah Jodha dgn tingkahnya yg lucu, Jodha hanya menyeringai senang melihat putri kecilnya ni “Kamu memang pintar, Aram Bano !” ujar Hamida sambil tersenyum gemas, Gulbadan dan Khanum pun tertawa melihat kepintaran Aram Bano “Ketika kita menjual barang, kita harus pintar, nenek” Hamida terkesan dgn kepintaran dan keluwesan Aram Bano dlm menjual barang dagangannya ”Jodha, Aram Bano ni pintar seperti kamu” Jodha hanya tersenyum mendengar pujian ibu mertuanya, kemudian Hamida memberikan sekantong koin emas dan meninggalkan mereka, sementara itu Aram Bano langsung berbalik ke ibunya dan memeluknya erat, Jodha sangat senang sekali melihat tingkah anak bungsunya ini.

Tak lama kemudian, Jalal dan para prajuritnya memasuki Meena Bazaar, semua istrinya berdoa semoga Jalal mengunjungi kios mereka, dari kiosnya Rukayah berkata pd dirinya sendiri “Jalal, pasti akan mengunjungi kios Ratu Jodha dulu” saat itu Jalal menyalami semua orang yg berjejer menjajakan barang dagangan mereka, sementara itu di ujung sana, terdapat kios Laboni yg sedang berjualan kheer/manisan, Jalal terus berjalan dan tak mempedulikan kios kios istri tersayangnya, kios Rukayah dan kios Salima dilewati begitu saja, tak seperti biasanya, Rukayah dan Salima heran, ada apa dgn Jalal, kenapa Jalal sama sekali tak mampir / melihat lihat kios milik mereka, bahkan kios Jodha pun hanya dilewati begitu saja, padahal Jodha sudah memberikan salam ke Jalal tapi Jalal melihatnyapun tidak, Jalal terus berjalan ke arah kios Laboni, Jalal seperti terpaku begitu melihat kios Laboni dari jauh, matanya tak berkedip sama sekali melihat kios Laboni yg saat itu dikunjungi oleh banyak pembeli, dari kejauhan Rukayah dan Salima sangat terkejut begitu melihat Jalal tak mempedulikan kios Jodha, Jodha sendiri jg nampak bingung dgn sikap Jalal karena tak biasanya Jalal berbuat seperti ini, Jalal selalu mampir ke kiosnya meskipun hanya sekedar melihat lihat.

Sementara itu, di kios Laboni, Laboni sedang asyik melayani para pembelinya, sementara ibunya Dammu sedang duduk di dlm kios sambil membelai belai boneka jelmaan Jalal yg membuat Jalal tak mempedulikan kios kios yg lain terutama kios istri istri kesayangannya. Begitu Jalal mendekat ke arah kios Laboni, Dammu memberikan isyarat ke Laboni kalau Jalal telah datang, Laboni segera menyambutnya dgn senyuman lebar lalu menyihir Jalal dgn kedua bola matanya. Jodha yg masih bertahan di kiosnya bersama Aram Bano merasa terluka karena Jalal tak mempedulikan kiosnya “Aneh sekali, kenapa Yang Mulia tak singgah ke kiosku ? Ada apa dengannya ?” sementara itu di kios Laboni, Laboni menyapa Jalal dgn senyumannya yg membuat Jalal tak memalingkan mukanya pd yg lain “Yang Mulia, anda disini rupanya ?”, “Apakah kamu berfikir kalau Sangram Sigh yg akan datang duluan ke kiosmu, Leela ?” ujar Jalal sambil terus menatap ke arah Laboni tanpa berkedip “Tidak, bukan begitu, saya kira anda akan mengunjungi kios istri anda terlebih dahulu” Jalal tersenyum “Aku ingin mengunjungi kiosmu terlebih dulu, semua orang sepertinya menyukai kiosmu ini, aku akan membantumu untk menjual kheer ini” Laboni tersipu malu sambil menatap Jalal manja “Ini tak akan cocok untk anda, Yang Mulia”, “Semua yg ada disini adlh milikku” ujar Jalal sambil mendekat ke arah Laboni, kemudian Dammu menyiapkan kheer khusus untk Jalal, Laboni segera menawarkan ke Jalal untk mencicipi kheer tersebut “Anda bisa mencicipi kheer buatan saya ini, Yang Mulia” ujar Laboni sambil menyodorkan kheer itu ke Jalal, tepat pd saat itu Rukayah menghampiri mereka

“Yang Mulia, seperti ritual yg biasa kita lakukan, kamu seharusnya mendatangi kios istri spesialmu terlebih dulu” sela Rukayah yg tak terima dgn perlakuan Jalal terhadap istri istri yg lain sementara Laboni bukanlah istri Jalal “Aku akan mengunjungi kios istriku kalau aku menginginkannya” ujar Jalal sambil tetap menatap Laboni, Laboni tersenyum senang, sementara Rukayah merasa dipermalukan oleh Jalal didepan banyak orang yg mengunjungi kios Laboni “Leela, aku ingin mencicipi kheer buatanmu itu” ujar Jalal tanpa menggubris Rukayah yg masih berada diantara mereka “Aku telah membuat kheer yg special untukmu, Yang Mulia” ketika Jalal hendak menyuapkan kheer tersebut ke mulutnya tiba tiba Rukayah menghentikannya dan berkata “Kamu tak bisa memakannya begitu saja, Yang Mulia ... sesuai dgn peraturan juru masak istana harus mencicipinya terlebih dulu, baru setelah itu Yang Mulia bisa memakannya” ujar Rukayah kesal, tepat pd saat itu Jodha menghampiri mereka dan berkata “Ratu Rukayah, dia ni adikku jadi biar saja, tak apa apa”, “Tidak bisa begitu, Ratu Jodha ! Peraturan tak bisa dirubah hanya karena kamu, jadi dia seharusnya mengikuti peraturan ni jg sekarang” ujar Rukayah lantang, Laboni teringat pd ucapan Dammu, ibunya “Laboni, kamu seharusnya mencicipi kheer ni dulu kemudian berikan ke Jalal dan tak boleh ada seorangpun yg mencicipinya karena kalau itu terjadi maka sihirnya tak akan bekerja” Laboni tersenyum senang “Kalau memang peraturannya seperti itu maka aku akan mencicipinya dulu” ujar Laboni kemudian mengambil sendok dan mulai mencicipinya sesendok “Aku percaya padamu, Leela” ujar Jalal,

Jalal mulai akan mencicipi kheer itu dgn sendok yg lain tapi secara sengaja Rukayah mendorong Jalal ke depan hingga kheer itu terlempar jatuh berserakan, Jalal tak suka dgn perbuatan Rukayah, dia segera berbalik dan menatap Rukayah garang “Rukayah ! Beraninya kamu menumpahkan kheer itu !”, “Maaf, Jalal ... aku tak sengaja” ujar Rukayah dgn wajah memelas “Tapi beraninya kamu melakukan itu ! Kamu itu tak cantik ! Aku menikahi kamu karena janjiku pd ayah, kamu selalu mengganggu yg lain, aku tak suka melihat wajahmu !” semua yg ada di sana terkejut mendengar ucapan Jalal “Yang Mulia, ni bukan kesalahannya, bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu ?” Jodha mencoba melerai, Jalal malah marah ke Jodha dan membelalakkan matanya ke arah Jodha sambil mengacungkan jarinya “Cukup, Ratu Jodha ! Aku telah memberikan padamu posisi yg terpenting lalu kamu bisa berbicara seenaknya padaku !” kembali semua yg ada disana terkejut mendengar ucapan Jalal yg mulai meninggi “Rukayah ! Pergi kamu dari sini, kalau aku mau, aku akan mengunjungi kiosmu !” Rukayah merasa tersinggung dgn ucapan Jalal, Rukayah sedih kemudian meninggalkan mereka semua, Jodha yg merasa iba ke Rukayah mengekor dibelakang Rukayah, sementara Laboni tersenyum sinis.

Rukayah kembali ke kiosnya sambil menangis, Jodha menemani Rukayah mencoba untk menghiburnya “Ratu Rukayah, jangan menangis, Yang Mulia tak bermaksud seperti itu” sambil menangis Rukayah berkata “Tapi biasanya Jalal tak pernah berbicara seperti itu ke aku, Ratu Jodha ... dia tak pernah menghina aku, aku merasa dia itu seperti orang lain hari ini, sesuatu telah terjadi padanya, sepertinya pikirannya itu dikendalikan oleh orang lain, aku merasa itu bukan Jalal yg berbicara” ujar Rukayah dgn deraian air mata “Mungkin dia hanya bersandiwara, Ratu Rukayah” Jodha mencoba menghibur Rukayah “Tidak, Ratu Jodha ! Sepertinya ada yg tak beres padanya, ada sesuatu yg aneh di dirinya yg bagiku asing, itu bukan Jalal !”

Sementara itu di kios Laboni, Jalal masih terlena oleh kecantikan Laboni atas ilmu sihirnya dan Dammu kembali memberikan Laboni kheer tersebut yg hendak diberikan untk Jalal “Leela, sebaiknya kamu cicipi dulu kheer ini” ujar Dammu sambil memberikan isyarat ke Laboni, Laboni mengerti isyarat Dammu sambil tersenyum dan mengambil kheer itu kemudian dia mulai mencicipinya dan diambilnya sendok yg lain lalu diberikan pd Jalal “Silahkan Yang Mulia, saya sudah mencicipinya, sekarang tinggal anda yg mencicipinya” Jalal mengambil sendok itu sambil terus menatapnya dan kemudian mulai mencicipinya, dari kejauhan Rukayah dan Jodha memperhatikan Jalal yg sedang mencicipi kheer.

Ketika Meena Bazaar sudah hampir selesai, seorang nenek tua yg dulu pernah menemui Jodha di depan pintu gerbang istana memaksa menemui Jodha dikawal oleh beberapa prajurit “Ratu Jodha, aku ingin mengatakan sesuatu padamu” ujar nenek tua itu “Maaf Malika Hind, nenek tua ni memaksa ingin bertemu dgn anda, katanya ada hal yg penting yg ingin disampaikannya ke anda” ujar salah satu prajurit yg mengawal si nenek “Iya, tak apa apa, kalian boleh pergi” para prajurit itupun pergi meninggalkan mereka “Ratu Jodha, Yang Mulia saat ni membutuhkan pertolonganmu, aku tahu anda pasti tak akan percaya begitu saja dgn ucapan saya tapi pengalaman saya mengatakan kalau sesuatu akan terjadi di istana anda” Jodha merasa nenek ni mengatakan hal yg tak bisa dipercaya “Kadang kadang kita tak melihat sesuatu yg kasat mata tapi mereka itu ada, ilmu hitam telah hadir di dunia dari jaman dulu dan bisa menyerang siapa saja, saat ni ilmu hitam sedang mempengaruhi Yang Mulia dan aku tahu siapa yg bisa menolong Yang Mulia”, “Siapa dia ?” Jodha mulai penasaran “Dia adlh seorang penyihir besar namanya Udaynath, dia tinggal di dekat Mandir, jika anda tak percaya dgn saya maka cobalah cek perilaku Yang Mulia, perilakunya pasti sangat berbeda sekali, tak seperti biasanya” Jodha tertegun... Sinopsis Jodha Akbar episode 518 by Sally Diandra

source : http://sinopsisjodhaakbar.blogspot.com, http://stackoverflow.com, http://flickr.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

All content at MY BLOG was found freely distributed on the internet and is presented for informational purposes only.
Images / photos / videos found in this site reserved by its respective owners.
We does not upload or host any files.
Home | DMCA | Contact